ANEMIA PADA WANITA USIA SUBUR

Materi Tentang Anemia

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dijumpai di dunia, kejadian anemia didunia dapat dijumpai baik dinegara maju maupun negara berkembang.  WHO memperkirakan lebih dari 30% penduduk dunia menderita anemia yang sebagian besar kejadian anemia ini berasal dari negara berkembang. Anemia berdampak besar bagi negara karena dapat mengakibatkan dampak terhadap kesehatan, ekonomi, kesejahteraan, dan berbagai aspek kehidupan lainnya (Sholikhah et al., 2021).

Prevalensi kejadian anemia dinegara maju diperkirakan  9% dan di negara-negara berkembang diperkirakan  43%. kelompok yang beresiko terkena anemia adalah anak-anak dan wanita usia subur. Wanita usia subur adalah wanita usia 15-49 tahun. Prevalensi anemia pada balita sebesar 30%, pada wanita hamil sebesar 42% pada wanita yang tidak hamil usia 15- 49 tahun sebesar 30%. Kejadian anemia merupakan masalah kesehatan yang ditargetkan WHO mengalami penurunan prevalensi  pada waita usia subuh sebesar 50% pada tahun 2025 (Sudikno & Sandjaja, 2016). Wanita pada usia subur  rentan terkena anemia,  karena wanita pada usia subur mengalami siklus menstruasi setiap bulan sehingga terjadi peningkatan kebutuhan zat gizi (Wijayanti & Fitriani, 2019).

Hasil riset Riskesdas tahun 2018 yaitu proporsi anemia pada tahun 2018 pada perempuan sebesar (27,2%) lebih tinggi dari pada laki - laki sebesar (20,3%). Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2012 menyatakan bahwa prevalensi anemia pada balita sebesar 40,5%, ibu hamil sebesar 50,5%, ibu nifas sebesar 45,1% , remaja putri usia 10 – 18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19 45 tahun sebesar 39,5%. Wanita mempunyai risiko terkena anemia paling tinggi terutama pada remaja putri (Sukartiningsih & Mega Amaliah, 2018).

Jenis-jenis anemia yang dapat dijumpai yaitu anemia defisiensi zat besi, anamia defisiensi vitamin C, annemia makrositik. Anemia defisiensi besi yaitu anemia yang diakibatkan kurangnya zat besi. Anemia defisiensi vitamin C anemia karena kekurangan vitamin C yang merupakan anemia yang jarang terjadi disebabkan karena kurangnya vitamin C yang berat dalam jangka waktu yang lama. Anemia makrositik anemia yang terjadi akibat kurangnya vitamin B12 atau asam folat, anemia aplastik anemia yang berbahaya karena dapat mengancam jiwa disebabkan akibat terganggunya sumsum tulang tempat pembuatan darah merah (Rahayu et al., 2019).

Anemia yang sering dijumpai pada remaja putri adalah anemia defisiensi besi karena proses menstruasi yang menyebabkan keluarnya sebagian zat besi yang ada dalam tubuh. Zat besi diperlukan untuk membentuk sel-sel darah merah yang kemudian akan dikonversi menjadi Hemoglobin . Tingginya anemia defisiensi besi dikarenakan berbagai faktor yaitu kehilangan besi, faktor nutrisi, peningkatan kebutuhan zat besi, serta gangguan absorpsi besi. Cara terbaik untuk mencegah anemia khususnya anemia defisiensi besi menurut WHO adalah dengan mengatasi semua faktor risiko secara bersamaan dengan memperbaiki asupan zat besi misalnya fortifikasi/suplemen/edukasi, pengendalian infeksi misalnya membasmi cacing tambang dan malaria, dan perbaikan umum dalam gizi dan keragaman diet (Simanungkalit & Simarmata, 2019).

Hemoglobin adalah protein yang mengandung zat besi dalam tubuh yang mengangkut sel darah merah yang merupakan pengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh tubuh dan juga pembawa karbondioksida dari seluruh tubuh menuju paru-paru untuk dikeluarkan.. Pemeriksaan hemoglobin mempunyai peranan penting dalam menentukan nilai anemia karena menurunya kadar hemoglobin dalam sel darah merah menjadi penyebab utama anemia , anemia dapat ditentukan dengan penurunan kadar hemoglobin dibawah normal yaitu (10 – 14 g/dl) (Meimi Lailla, Zainiar, 2021).   Kadar hemoglobin di dalam tubuh dipengaruhi olehi beberapa faktor diantaranya yaitu usia, jenis kelamin, dan asupan makanan. Faktor usia dimana semakin bertambah usia makai produksi sel darah merah semakin menurun karena terjadinya penurunani fungsi sumsum tulangi yang berfungsi memprosuksi sel darah merah (Khoirin & Hartono, 2021).

Selain pemeriksaan kadar hemoglobin penentuan anemia dapat dideteksi dengan pemeriksaan darah lengkap dengan menggunakan alat otomatis Hematology analyzer yaitu pemeriksaan indeks eritrosit, indeks eritrosit adalah batasan untuk ukuran dan isi hemoglobin eritrosit.  Indeks eritrosit terdiri atas volume atau ukuran eritrosit (MCV : Mean Corpuscular Volume atau volume eritrosit rata-rata), berat (MCH : Mean Morpuscular Hemoglobin atau hemoglobin eritrosit rata-rata), dan konsentrasi (MCHC : Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration atau kadar konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata)  (Novila et al., 2013).  Kelebihan pemeriksaan Anemia menggunakan nilai indeks eritrosit yaitu indeks eritrosit dapat digunakan sebagai pemeriksaan penyaring untuk mendiagnosis terjadinya anemia dan mengetahui anemia berdasarkan morfologinya seperti anemia hipokromik mikrositik, makrositer dan normositik normokromik (Yunis, 2018).

Komentar